Inovasi Dosen UMKU: Yoghurt Jangklong-Parijoto Diciptakan sebagai Camilan Sinbiotik untuk Anak Stunting

Proses pembuatan yoghurt berbahan dasar umbi jangklong dan parijoto yang dikembangkan oleh dosen UMKU, Fariza Yulia Kartika Sari, S.Gz., M.Si. (dok. Humas-Admisi UMKU)

KUDUS — Kondisi stunting pada anak-anak menjadi perhatian khusus civitas akademika Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU). Anak yang stunting biasanya kekurangan bakteri baik, imun rendah, dan rentan infeksi hingga menyebabkan tinggi badan mereka lebih pendek dari anak seusianya.

Stunting juga sampai sekarang masih menjadi masalah global. Di Indonesia, prevelensi stunting menurun dari 21,6 persen pada tahun 2022, menjadi 19,8 persen di tahun 2024 dan ditargetkan 14,2 persen pada tahun 2029 mendatang.

Dalam membantu pemerintah menekan angka stunting pada anak-anak, dosen UMKU mulai mengembangkan makanan yang mengandung gizi tinggi sebagai alternatif camilan untuk anak stunting.

Dosen UMKU, Fariza Yulia Kartika Sari, S.Gz., M.Si., berhasil membuat yoghurt berbahan dasar umbi jangklong dan parijoto. Kedua bahan tersebut merupakan tanaman khas yang banyak ditemui di Kecamatan Dawe hingga Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Fariza menilai, memanfaatkan umbi jangklong dan parijoto sebagai bahan dasar yoghurt merupakan sebuah solusi inovatif untuk menambah gizi anak-anak.

“Umbi jangklong dan buah parijoto kaya inulin (prebiotik) dan antosianin (antioksidan),” ungkapnya.

Ia melanjutkan, manfaat utama membuat youghurt dengan bahan-bahan tersebut bisa untuk memperbaiki komposisi mikroba usus, meningkatkan pertumbuhan bakteri baik, dan mencegah stres oksidatif akibat infeksi berulang.

“Nilai tambah dari yoghurt lokal dari Kudus ini aman bagi mereka yang intoleransi pada laktosa, dan bernilai ekonomi tinggi,” ujar Fariza.

Pihaknya mengungkapkan, dalam mengembangkan produk Yoghurt Jangklong Parijoto, Fariza menggunakan metode penelitian desain ekspereimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL).

Lokasi penelitiannya di Laboratorium Gizi UMKU dan Laboratorium Chem Mix Pratama Yogyakarta.

Kemudian untuk bahan baku yang digunakan meliputi susu segar, gula pasir, umbi jangklong, parijoto, dan starter youghurt.

Fariza menjelaskan, proses pembuatan Yoghurt Jangklong Parijoto dimulai dengan mencampurkan susu segar, gula pasir, dan tepung umbi jangklong.

Setelah itu, homogenisasi dan pasteurisasi pada 90°C selama 5 menit. Dilanjutkan dengan pendinginan hingga suhu 43-45°C dan penambahan inokulum bakteri asam laktat (1:1v/v).

Lalu inkubasi pada suhu 37-42°C selama 8-10 jam hingga pH 4,6 dan terakhir, penambahan ekstrak perijoto dan homogenisasi.

“Jadi kesimpulannya, Yoghurt Jangklong Parijoto (F3, 30 g jangklong) adalah produk sinbiotik lokal bergizi, ekonomis, dan sesuai SNI. Produk ini berpotensi menjadi camilan sehat bagi anak stunting,” terang Fariza Yulia.

Rektor UMKU, Dr. Edy Soesanto, S.Kp., M.Kes menilai, Yoghurt Jangklong Parijoto menjadi salah satu inovasi yang memiliki gizi tinggi ketika dikonsumi.

Pihaknya berharap, inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan mampu menekan angka stunting di Indonesia, terkhusus di wilayah Kudus.

“Semoga inovasi tersebut dapat dikembangkan dan menjadi alternatif camilan sehat bagi anak-anak. Semoga angka stunting terus bisa menurun,” harapnya. (NR)

Bagikan ke :

WhatsApp
Telegram
Facebook
Threads
Email
X